Penderita Kusta Masih Alami Diskriminasi
Penderita kusta di Provinsi Gorontalo masih menerima perlakuan diskriminatif dan pengucilan oleh masyarakat.
"Ada anak yang baru ketahuan dia terkena kusta langsung dikeluarkan dari sekolah, padahal itu belum parah," kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dr Triyogo Suhadi, Jumat.
Diskriminasi juga terjadi pada penderita kusta di tempat kerja, lingkungan pergaulan, bahkan keluarga.
"Sebenarnya penyakit ini mudah diobati, apalagi jika tidak terlalu lama terinfeksi, yang penting mau telaten berobat," katanya.
Pemerintah sendiri menyediakan pengobatan gratis untuk penderita kusta di seluruh Puskesmas dan Rumah Sakit Umum.
"Dulu di sini ada rumah sakit yang khusus menangani kasus kusta, yaitu RS Toto yang sekarang dikembangkan menjadi RSUD, tapi pada prinsipnya semua rumah sakit harus memberikan pelayanan kepada penderita kusta, kalau tidak bisa terancam hukuman," katanya.
Meski demikian, pada kasus kusta yang sudah akut, pengobatan yang dilakukan dapat mengobati dan menghilangkan penyakit itu namun tidak bisa mengobati cacat yang diakibatkannya.
"Karena itu jika kita menemui bercak putih di tubuh, apalagi jika kulitnya sudah terasa mati rasa, maka segeralah ke puskesmas untuk diperiksa lebih lanjut agar dapat dilakukan penanganan sejak dini," anjurnya.
Namun Triyogo mengajak masyarakat untuk menghindari penyakit yang bersumber dari microbacteri lepra itu dengan menjaga diri dan lingkungan agar selalu bersih dan sehat.
"Bakteri ini bisa menular lewat kontak langsung atau oleh lingkungan yang tidak bersih dan tidak sehat, rumah yang ventilasinya kurang baik sehingga lembab juga bisa menjadi sarang bakteri ini," jelasnya. abd


